Beranda > Berita >  Analisis Penyebab Banjir di Kota Bandung

Analisis Penyebab Banjir di Kota Bandung


, 28 Oktober 2016



Masyarakat Kota Bandung dikejutkan oleh banjir bandang yang terjadi pada Senin, 24 Oktober 2016, siang. Jalan Pasteur yang sehari-hari menjadi urat nadi kegiatan perekonomian, berubah menjadi bak sungai dengan arus yang cukup deras. Walau hujan tidak terlalu lama tetapi membuat banjir yang selama ini tidak pernah sampai separah sekarang.

Kepala Satuan Kerja Metro Bandung, Aryatno Sihombing memberikan penjelasan mengapa Kota Bandung bisa dilanda banjir setinggi 50-200 Cm dan meninggalkan banyak sedimen lumpur. Menurutnya, ada 3 titik terparah banjir, yakni di Jalan Pasteur, SMA 9 Kota Bandung, dan Jalan Pagarsih.

Sebelum banjir melanda, tercatat terjadi curah hujan yang tinggi sekitar 77,5 mm di STA Cemara pada tanggal 24 Oktober 2016 dari jam 11.40 - 13.10. Hujan mengakibatkan Sungai Citepus dan Sungai Cianting (anak sungai Citepus) meluap dan mengalir deras di area Jalan Pasteur, terutama di depan Bandung Trade Center, Kota Bandung.  

Air Sungai Citepus meluap karena alirannya terhambat oleh Bangunan Terjun. Dengan demikian air  keluar dari alirannya menuju Jl. Sukamulya dan menyatu dengan run off yang berasal dari kawasan pemukiman, langsung masuk ke Jalan Pasteur, sehingga mengakibatkan banjir. Sedangkan untuk aliran air di Sungai Cianting yang seharusnya mengalir lancar melewati box culvert, nyatanya terhambat karena adanya pendangkalan. Situasi ini diperparah oleh run off yang berasal dari kawasan pemukiman di area Jalan Babakan Jeruk dan sekitarnya, sehingga menyebabkan banjir di Jalan Pasteur.

Kemudian, Aryatno melanjutkan, banjir di SMA 9 Kota Bandung tidak terlepas dari aliran air sungai Citepus  yang menggerus dasar pondasi benteng belakang sekolah sehingga roboh sepanjang kira-kira 10 M. Inilah yang mengakibatkan air membanjiri sekolah. Air juga berasal dari luapan saluran Cilimus yang pada saat ini berfungsi sebagai drainase. Saat kejadian banjir, drainase mengalami penyumbatan akibat pendangkalan dan penurunan di gorong-gorong  sehingga meluap ke Jalan Suparmin dan mengalir ke sebelah kanan yang mengakibatkan benteng sekolah roboh sepanjang lebih kurang 3 M.

Terakhir terkait banjir di Jalan Pagarsi. Berdasarkan analisis di lapangan, banjir diakibatkan oleh luapan Sungai Citepus yang menghanyutkan 3 buah Kendaraan roda empat. Derasnya arus sungai karena debit banjir diperkirakan sebesar 30 m3/detik, sedangkan dimensi Sungai Citepus eksisting yang berada di Jalan Pagarsih diperkirakan hanya dapat menampung debit 20 m3/detik.

Dari penjelasan ini, tampak ada banyak hal yang harus diperbaiki terkait tata kota. Semoga semua pihak yang terkait dapat bersinergi untuk membangun Kota Bandung yang ramah untuk warganya. (ONE/MKY/BBPJN VI)


Baca Juga :

Jelang Musim Hujan, Dirjen Bina Marga Periksa Kondisi Pantura