Beranda > Berita >  Menteri Basuki Berangkat ke Garut Meninjau Lokasi Bencana Banjir Bandang

Menteri Basuki Berangkat ke Garut Meninjau Lokasi Bencana Banjir Bandang


Jakarta, 22 September 2016



Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono pagi ini (22/9) berangkat menuju lokasi bencana banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Rencananya akan dilakukan rapat kordinasi lapangan bersama Bupati Garut Rudy Gunawan di Kantor PDAM Garut yang juga menjadi Posko Kementerian PUPR.

Sementara itu intensitas hujan yang tinggi menyebabkan Sungai Cimanuk dan Sungai Cikamuri meluap, dan mengakibatkan banjir bandang di beberapa wilayah di Kabupaten Garut. 

Akibat dari derasnya aliran air, tanggul sepanjang 250 meter di Desa Paminggir, Kabupaten Garut jebol. 

Untuk penanganan darurat bencana banjir bandang sungai Cimanuk, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung (Cimancis) Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) hari ini (22/9) akan segera melakukan pemasangan bronjong di tanggul yang rusak akibat limpasan.

Selain penanganan darurat tersebut Imam mengatakan bahwa pihaknya juga menyiapkan alat berat yang siap dimobilisasi bila dibutuhkan. "Kita siapkan 4 alat berat berupa 1 longarm dan 3 backhoe excavator dan akan dipasang bronjong untuk penanganan darurat, untuk memproteksi (apabila) hujan besar, karena disini pemukiman padat. Nanti akan kita lakukan penanganan permanen," tutur Direktur Jenderal SDA Kementerian PUPR Imam Santoso di lokasi bencana ke Garut (21/9).

Alat berat tersebut, akan didatangkan dari lokasi paket pekerjaan terdekat, sehingga apabila kondisi memungkinkan dapat dengan cepat diturunkan. Lebih lanjut Imam mengatakan bahwa Intensitas hujan yang terjadi memang cukup tinggi.

Dijelaskannya di hulu Sungai Cimanuk terdapat Bendung Copong, dengan desain banjir ulangan 100 tahun atau Q 100 tahunan untuk aliran air sebesar 740 m3 per detik. Sementara yang terjadi kemarin mencapai 1.140 m3 per detik karena intensitas curah hujan yang tinggi 255 mm dari sore hingga tengah malam. Hal itu menyebabkan air melimpas ke hilir sangat besar. “Kita memang mendesain tanggul sungai itu pada kapasitas tertentu," tutur Imam.

Sebagai perbandingan, Imam mengatakan bahwa curah hujan yang terjadi pada saat banjir Jakarta tahun 2013 adalah 180 mm sedangkan ukuran curah hujan normal adalah 0-25 mm, sedang 25-50 mm dan 50-100 itu sudah masuk kategori tinggi. 

Sementara itu Kepala BBWS Cimancis Mochamad Mazid mengatakan bahwa kerusakan infrastruktur SDA yang baru teridentifikasi adalah rusaknya tanggul sepanjang 250 meter tersebut, selanjutnya masih menunggu surutnya banjir untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Identifikasi kerusakan dan penanganan lainnya akan menunggu  sampai kondisi surut, sejak pukul 7 pagi hari ini diketahui bahwa kondisi sudah berangsur surut  dan teridentifikasi bahwa di bendung Copong tidak ada kerusakan dan di hilirnya ada gerusan," tutur Mazid. (*)


Baca Juga :

Kementerian PUPR dan Pemkot Pontianak Akan Bangun Jembatan Sungai Landak II